portal

Mengajak Anda memungut hikmah, membentangkan jembatan, dan mengabarkan kasih sayang.

SQ: Lengkapi IQ dan EQ

Fatih Zam   Selasa, 09 April 2013, 09:00 WIB

 


panhala.net

Sebelum EQ atau Emotional Quotient ditemukan, IQ adalah primadona yang jadi rujukan orang-orang. Hal-hal yang berkaitan dengan intelektualitas menempati singgasana kehormatan yang dramatis. Orang-orang yang lulus tes IQ dengan nilai bagus dianggap bintang, bersinar, dan—anehnya—lebih dari orang kebanyakan. Jadilah sekolah dijejali pelajaran-pelajaran yang dipercaya mampu mendongkrak IQ generasi muda. Ibaratnya, kalau perlu sampai mabok para siswa itu menetidak pelajaran demi pelajaran; matematika, bahasa, dan ilmu pengetahuan umum lainnya.

 

Tensi mereda setelah EQ menemui kultur manusia yang terlanjur mati-matian mengejar IQ. Dan, makin terperangahlah anak-cucu Adam setelah penelitian membuktikan IQ bukan apa-apa dibandingkan EQ. Bahwa IQ bukan faktor yang dominan dalam menentukan keberhasilan seseorang. Bahwa orang yang ber-IQ tinggi bukan jaminan ia mampu mengatasi kesulitan-kesulitan dalam hidupnya. Bahwa IQ betul sebagai faktor yang diperlukan, tapi ia, sepenuh-sepenuhnya ia diisi, bukan batas yang tidak bisa dilewati hingga memenuhi quota EQ.

 

Menurut Daniel Goleman dalam bukunya, Emotional Intelligence, IQ hanya menyumbang kira-kira 20 persen bagi faktor-faktor yang menentukan sukses dalam hidup, sedangkan sisanya, 80 persen, diisi oleh kekuatan EQ. EQ bicara tentang kesadaran, kendali dorongan diri, ketekunan, semangat dan motivasi diri, empati, kecakapan sosial, dapat membaca realitas emosi dalam sekejap, membuat penilaian singkat secara naluriah, radar terhadap bahaya, bekerja lebih cepat dibandingkan dengan pikiran emosional, tindakan yang muncul dari pikiran emosional membawa rasa kepastian yang sangat kuat, memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi, mengendalikan dorongan hati dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berfikir, kemampuan bergaul dengan orang lain, mengelola dorongan nafsunya dengan baik, mengekspresikan dan menilai emosi dengan tepat, mengutarakan perasaan pada saat dibutuhkan, membuat pertimbangan, mengingat-ingat, belajar dan melakukan inovasi.

 

EQ, dengan sendirinya, menggeser keprimadonaan IQ, dan menjadikannya unsur yang patut dipertimbangkan. Karena EQ-lah, 100 persen tercapai. Apa-apa yang dahulu disandarkan pada IQ seluruhnya, ternyata, sebagian besar ada di pundaknya. Bersama-sama, keduanya menciptakan masa depan yang lebih baik.

 

Akan tetapi, komposisi itu “diganggu” lagi oleh satu unsur yang baru-baru ini mengemuka di dunia Internasional: SQ atau Spiritual Quotient. Ia adalah kecerdasan jiwa yang membantu seseorang untuk mengembangkan dirinya secara utuh melalui penciptaan kemungkinan untuk menerapkan nilai-nilai positif. Kecerdasan yang dilekatkan pada nilai-nilai kespiritualan, yakni kedekatan seseorang dengan Tuhannya. Mengenai spritual itu sendiri, menurut Kozier, Erb, Blais dan Wilkinson, ia diartikan sebagai keyakinan atau hubungan dengan sesuatu kekuatan yang paling tinggi, kekuatan kreatif, makhluk yang berketuhanan atau sumber keterbatasan energi.

 

Mengenai SQ, ia bernasib mirip EQ: awalnya dianggap tidak penting, namun lama-lama diakui dunia Barat. SQ sendiri, di belahan dunia bagian Timur, bukanlah hal yang “baru”, karena bagi kita, spiritualitas sudah lama menjadi udara keseharian. Mungkin karena itulah di mata Barat, orang Timur memang jauh lebih “alim” ketimbang mereka. Mereka terkagum-kagum dengan hal-hal yang terkait dengannya. Butuh waktu yang cukup lama hingga mereka, walaupun menyukainya secara pribadi dan menerimanya sebagai “kebenaran umum”. Bahwa spiritual itu ada. Bahwa spiritual itu penting.

 

Menurut Carson, kebutuhan spiritual adalah kebutuhan untuk mempertahankan atau mengembalikan keyakinan dan memenuhi kewajiban agama, serta kebutuhan untuk mendapatkan maaf atau pengampunan, mencintai, menjalin hubungan penuh rasa percaya dengan Tuhan. Dimensinya, menurut Murray dan Zentner (1995), berupaya untuk mempertahankan keharmonisan atau keselarasan dengan dunia luar, berjuang untuk menjawab atau mendapatkan kekuatan ketika sedang menghadapi stres emosional, penyakit fisik atau kematian. Kekuatan yang timbul di luar kekuatan manusia.

 

Pemberitaan tentang Tuhan dan kekuasaan-Nya sudah jauh terjadi sejak hari manusia diciptakan. Karena penciptaan itu sendiri sangat erat terkait dengan tujuan-Nya melakukannya. Sehingga, tidak salah, sepanjang tinta kenangan masa lalu, kita temukan beragam cara manusia “mencapai” Tuhan. Walau Dia sempat diragukan eksistensinya oleh para penganut paham materialisme (kroni-kroni Darwinisme), namun jiwa-jiwa bergerak mencari kedamaian yang, ironisnya, sebelumnya diingkari oleh manusia itu sendiri. Mereka memuja kesenangan-kesenangan, tapi terbentur kebosanan akan kebahagiaan yang ditawarkan ketika terlalu sering melakukannya. Ada “sesuatu” yang kosong. Ada “sesuatu” yang tidak bisa dijelaskan. Ia bukan soal akal. Ia bukan emosi. Tapi ia ada. Mengganggu, menuntut “diberi makan”.

 

Maka, pendidikan hari ini tidaklah cukup bila hanya disandarkan pada masalah intelektual dan pengendalian emosi. Pendidikan juga perlu menyertakan faktor spiritual di dalamnya. Saat itu dilakukan dengan benar, tiba-tiba “sesuatu” itu terisi, dan tentramlah gonjang-ganjing selama ini. Keajaiban inilah yang dirasakan mereka yang menemukan jalan menuju Tuhan melalui agama-Nya. Ia bukan teori yang diperdebatkan. Ia benar-benar tidak bisa ditolak dengan logika bercampur prasangka. Sekalipun orang-orang berkumpul mencari rumus dan gaya paling manis untuk menyangkalnya, ia terus datang, memainkan melodi sedihnya di hati mereka yang mencaci dan melupakannya. [Fatih Zam/Mizanmag/id.wikipedia.org]

 

 

 

 

 

 

 

 

denger
“Berjalanlah dengan penuh percaya diri menuju arah mimpimu. Hiduplah hidup yang telah kau impikan.”

―Henry David Thoreau

mizandotcom MizanMag

Facebook Mizanmag

Find Us: