portal

Mengajak Anda memungut hikmah, membentangkan jembatan, dan mengabarkan kasih sayang.

Lowongan Kerja: Imam Masjid di Amerika!

Master   Senin, 11 Februari 2013, 10:00 WIB

 


npr.orgIslam di Amerika tumbuh demikian pesat, bahkan data menunjukkan pertumbuhan itu terjadi secara eksponensial. Sejak 2000 hingga 2010, jumlah masjid di negara Paman Sam itu bertambah 74%. Kini terdapat lebih dari 2.100 masjid di Amerika, namun mereka menghadapi satu tantangan besar: jumlah imam shalat atau pemimpin spiritual yang sangat kurang.

 

Masjid Mid-Cities di Colleyville, Texas, misalnya. Masjid dengan dua menara ini berdiri di kawasan pinggiran di antara Fort Worth dan Dallas. Cahaya hijau memancar dari dalam masjid tersebut keluar. Di dalam masjid, jamaah tengah melakukan shalat maghrib. Seorang imam muda memimpin shalat, memejamkan mata sambil mendekatkan dirinya ke arah mikrofon. Belasan laki-laki berjajar di belakangnya bertindak sebagai makmum.

 

Jamaah masjid yang sebagian besar warga Amerika keturunan Pakistan ini beruntung karena memiliki imam kelahiran Amerika. Sebab pada kenyataannya, saat ini tengah terjadi kelangkaan imam di Amerika, jika dibandingkan dengan kebutuhan yang ada.

 

"Karena kelangkaan ini, saya sering harus melakukan perjalanan mengunjungi sekitar 150 masjid di berbagai kawasan Amerika. Sebagian besar masjid tersebut tidak memiliki imam sendiri,” ujar Ali Khan, yang selain menjadi imam Masjid Mid-Cities juga memimpin Bayyinah, sebuah lembaga pendidikan berbahasa pengantar Arab di Dallas, yang mendidik para calon imam.

 

Menurut Khan, sebagai komunitas Muslim yang terpisah dari komunitas Muslim lain di dunia ini, Muslim Amerika harus menemukan jalannya sendiri, menemukan tradisinya sendiri. Di negara-negara Islam, masjid dan imam disediakan negara. Di Amerika Serikat, mereka adalah institusi swasta, sebagaimana gereja. Terlebih mereka cenderung melayani pusat-pusat agama dan komunitas budaya yang biasanya secara etnis berbeda dengan warga mayoritas.

 

Memang, banyak masjid di Amerika menampung jamaah dari berbagai negara. Dan makin hari, masjid-masjid itu pun menjadi rumah bagi Muslim yang terlahir di Amerika, yang identitasnya benar-benar murni Amerika. Sejumlah anak muda Muslim mengalami perasaan terasing dari masjid dan budaya agama mereka, sehingga bukan hanya masjid-masjid itu memerlukan imam yang mampu memimpin shalat, namun juga yang fasih berbahasa Inggris dan memiliki pemahaman yang menyeluruh akan budaya Amerika.

 

"Ada saja tokoh agama yang dapat berkomunikasi dengan jamaah yang lebih tua, namun gagal terhubung dengan kaum muda.” Ujar Ali Khan. "Sedangkan kemampuan terhubung dengan kaum Muslim muda, justru menjadi tuntutan utama bagi pemimpin komunitas Muslim sekarang.”

 

Asosiasi Islam di Mid-Cities sendiri sempat selama 15 bulan tidak memiliki imam, sebelum akhirnya menunjuk Yahya Jaekoma. Pemuda 23 tahun kelahiran San Diego ini berasal dari keluarga imigran Thailand dan terlahir dari orangtua keturunan Afghanistan.

 

"Aku menjadi atlet skateboard sejak usia 10 tahun, namun kemudian aku mengalami patah tangan, dan nenek pun menyuruhku meninggalkan olah raga itu,” Jaekoma menjelaskan dirinya. "Lalu dia mengirimku ke madrasah, tempatku belajar Al-Quran sejak usia 14 tahun.”

 

Pada saat usianya 18, Jaekoma sudah mampu menghafal seluruh isi Al-Quran dan dia pun mengabdikan hidup sepenuhnya untuk belajar agama. Bagaimanapun pengalamannya sebagai seorang pemain skateboard telah membantunya mendekati kaum muda di masjidnya kini.

 

"Kukisahkan cerita hidupku pada mereka,” katanya. “Kuceritakan dari mana asalku, dan apa saja yang telah kulakukan.”

 

Di tengah komunitas anak muda masjid Mid-Cities itu terdapat Sijil Patel, seorang pemuda Amerika-Pakistan berusia 16 tahun yang tergila-gila pada Facebook, Twitter, Instagram, dan senang mengenakan sepatu warna-warni yang mencolok serta bandana menyala di kepalanya.

 

"Dengan memiliki imam yang terlahir di Amerika, kami lebih mudah berkomunikasi, dan lebih mudah juga bagi mereka untuk memahami pandangan kami, bagaimana tantangan yang kami hadapi menyangkut keimanan yang kami peluk di tengah dunia modern ini," papar Patel.

 

Hal-hal yang mereka diskusikan mencakup soal pacaran, seks, obat terlarang, alkohol, dan hal-hal lainnya.

 

"Kami diajarkan bahwa dalam Islam bahasa vulgar itu dilarang,” tutur Patel. “Aku berusaha mentaatinya, tidak melakukan hal-hal buruk seperti itu, dan mengingatkan teman-temanku untuk juga menaatinya”

 

Sebuah survei yang baru-baru ini diadakan The Islamic Society of North America melaporkan bahwa hanya 44% imam di Amerika mendapat gaji dan bekerja secara full time. Sisanya adalah para sukarelawan. Empat dari lima imam (80%) terlahir dan mendapat pendidikan di luar Amerika Serikat, sebagian besar di Mesir, Saudi Arabia, dan India.

 

 

"Bisa dihitung, lembaga yang menyediakan pendidikan bagi para imam di Amerika Serikat hanyalah 3 saja," ujar Jihad Turk, presiden Bayan Claremont Islamic School di Southern California.

 

Turk memperkirakan bahwa tahun ini lembaga pendidikannya, Hartford Seminary di Connecticut, dan Zaytuna College di San Francisco Bay Area, secara bersama-sama hanya mampu menghasilkan 30 lulusan  yang memahami Al-Quran. Maka dapat dipastikan, para lulusan ini tak akan kesulitan mencari pekerjaan. [PN/mizanmag/npr.org]

 

 

 

 

 

 

 

 

denger
“Berjalanlah dengan penuh percaya diri menuju arah mimpimu. Hiduplah hidup yang telah kau impikan.”

―Henry David Thoreau

mizandotcom MizanMag

Facebook Mizanmag

Find Us: