portal

Mengajak Anda memungut hikmah, membentangkan jembatan, dan mengabarkan kasih sayang.

Mitos Nyi Roro Kidul

Fatih Zam   Sabtu, 27 April 2013, 12:00 WIB

 


 wisataindo.com

 

Sebagaimana legenda, mitos, hikayat, dan alkisah, Ratu Laut Selatan, atau yang lebih dikenal sebagai Nyi Roro Kidul, juga mempunyai awal mula. Ceritanya bukanlah penuh bahagia. Seperti halnya sinema elektronik, ada masa di mana kita merasa mengenali jalan sejarahnya. Nampak tidak asing dan sering kita dengar sebelumnya.

 

Nyi Roro Kidul, dikatakan, dahulunya adalah seorang wanita berparas elok bernama Kadita. Karena kecantikannya, dia sering disebut Dewi Srengenge, yang artinya Matahari Wangi. Kadita adalah putri Raja Munding Wangi. Walaupun ia berwajah menawan, duka Raja tak bisa dihilangkan karena mendamba anak lelaki untuk melanjutkan kepemimpinannya.

 

Kegundahan Raja baru hilang setelah ia memperistri Dewi Mutiara. Dari rahim istri barunya, lahirlah seorang putra. Raja amat bahagia, demikian pula Dewi Mutiara. Dia memang mengharapkan anaknya menjadi penguasa kerajaan—dan Raja pun merestuinya sebagai pewaris tahta. Namun, meski demikian, Dewi Mutiara tidak menginginkan kekuasaan anaknya nanti mendapatkan tandingan. Dan, itu hanya bisa terjadi jika Kadita tetap tinggal di kerajaan.

 

Dewi Mutiara membujuk Raja Munding Wangi untuk mengusir Kadita. Ide ini, tentu saja, dimentahkannya dengan tinggi nada bicara. Dewi Mutiara tidak membantah, menggantinya dengan perkataan manis dan menuruti apa pun kehendak sang Raja. Kemarahan Raja pun berangsur surut, memaafkan Dewi Mutiara—meski kata-katanya sempat membakar isi dada.

 

Di lain pihak, Dewi Mutiara—diam-diam—tidak menerima keputusan suaminya. Dia pun mengatur rencana agar Kadita terusir dari kerajaan. Esok harinya, ia mengirimkan inang pengasuh untuk memanggil seorang tukang sihir. Kepadanya diperintahkan, agar kepada Kadita dikirimkan guna-guna. Penyihir  itu pun menyanggupi.

 

Singkat cerita, ketika malam tiba, tatkala Kadita sedang lelap, masuklah angin semilir ke dalam kamarnya. Angin itu berbau busuk, mirip bau bangkai. Ketika Kadita terbangun, dia menjerit. Seluruh tubuhnya penuh dengan kudis, bernanah, dan sangat berbau tidak enak.

 

Saat Raja mengetahui penyakit yang menimpa putrinya, ia tahu hal itu pastilah guna-guna. Dia juga mencurigai istrinyalah pelaku kejahatan itu. Akan tetapi, bagaimana cara membuktikannya? Namun, kalaupun terbukti, bagaimana dengan Kadita? Raja harus segera memutuskan nasibnya. Atas desakan Patih, Kadita pun diasingkan keluar kerajaan agar tidak menjadi aib keluarga.

 

Maka, pergilah Kadita seorang diri. Hatinya remuk redam. Air matanya berleleran. Tetapi, dia tetap tak mau menyumpahi orang-orang yang mencelakainya. Ia masih ingat ajaran neneknya, bahwa mendendam dan membenci bukanlah sikap yang istimewa.

 

Siang dan malam Kadita berjalan. Tanpa arah, tanpa tujuan. Pada hari-7, ia tiba di pantai Selatan. Ketika berdiri memandang luasnya samudera, ia mendengar suara yang memanggilnya. Menyuruhnya menceburkan diri ke dalam laut. Saat Kadita mengikuti petunjuk suara itu, kala Kadita tersentuh air laut, tubuhnya pulih kembali. Semua penyakitnya hilang. Kadita pun menjelma cantik seperti sediakala. Tidak hanya itu, ia segera menguasai seluruh lautan dan isinya, mendirikan kerajaan yang megah, kokoh, indah, dan berwibawa.

 

Namun, mitos ini sudah disikapi berlebihan oleh sebagian Muslim, terutama di Indonesia. Sehingga yang berkembang adalah perilaku-perilaku syirik di tengah masyarakat.

 

Pertama, di daerah pantai Pelabuhan Ratu, persisnya Karang Hawu, ada sebuah persinggahan Ratu Pantai Selatan. Di komplek ini, kita dapat menyaksikan dua ruangan besar yang berisi beberapa makam “spesial”. Makam itu dipercaya sebagai makan Eyang Sanca Manggala, Eyang Jalah Mata Makuta, dan Eyang Syeh Husni Ali. Yang unik, ruangan ini dihiasi dengan gambar-gambar Nyi Roro Kidul.

 

Kedua, sedekah laut. Setiap tahunnya, nelayan pantai selatan Jawa memberikan sejumlah persembahan pada Ratu Laut Kidul agar mereka dilindungi dari bahaya, sekaligus mengharap perbaikan penghasilan. Untuk melakukannya, digelarlah sebuah upacara khusus—selain di pantai Pelabuhan Ratu—di Ujung Genteng, Pangandaran, Cilacap, Sakawayana dan sebagainya. Selain upacara ini, pada waktu-waktu tertentu, ada juga tradisi lainnya untuk Ratu Kidul sebagai wujud rasa terima kasih para nelayan kepadanya.

 

Ketiga, tari Bedaya Ketawang. Dari keyakinan masyarakat mengenai hubungan asmara Panembahan Senopati dengan Ratu Kidul, dibuatlah tarian ini pada masa Sunan Pakubuwanan I, tepatnya dari Keraton Kasunanan Surakarta. Tarian Bedaya Ketawang sendiri dibawakan setiap tahun sebagai persembahan, di mana Sunan duduk menyaksikannya di samping kursi kosong—yang disediakan bagi Kanjeng Ratu Kidul.

 

Keempat, larangan berpakaian hijau. Nyi Roro Kidul diyakini masyarakat kerap “mengambil” orang-orang yang berpakaian hijau yang berada di wilayahnya. Tujuannya untuk dijadikan pembantu atau prajurit di bawah laut. Karena itulah, mengutip Wikipedia Indonesia, pengunjung pantai wisata di selatan Pulau Jawa, baik di Pelabuhan Ratu, Pangandaran, Cilacap, pantai-pantai di selatan Yogyakarta, hingga Semenanjung Purwa di ujung timur, selalu diingatkan untuk tidak mengenakan pakaian berwarna yang Nyi Roro Kidul suka.

 

Kelima, ruang-ruangan spesial di sejumlah hotel. Masih menurut Wikipedia Indonesia, pemilik hotel yang didirikan di pantai selatan Jawa dan Bali, mengalokasikan kamar istimewa untuk Kanjeng Ratu Kidul. Yang paling populer adalah kamar 327 dan 2401, Hotel Grand Bali Beach. Mengenai kamar 327, ia menjadi satu-satunya kamar hotel yang tidak terbakar pada peristiwa kebakaran besar di bulan Januari, 1993. Setelah pemugaran, Kamar 327 dan 2401 selalu dirawat, diberi hiasan ruangan dengan warna hijau, diberi suguhan (sesaji) setiap hari, namun tidak untuk dihuni—sebab khusus dipersembahkan bagi Ratu Kidul. Hal yang sama juga dilakukan di Hotel Samudra Beach di Pelabuhan Ratu, persisnya di kamar 308. Di dalam ruangan ini terpajang beberapa lukisan Kanjeng Ratu Kidul karya pelukis Basoeki Abdullah. Di Yogyakarta, Hotel Queen of The South, di dekat Parangtritis, juga mereservasi Kamar 33, khusus bagi Kanjeng Ratu. [Fatih Zam/Mizanmag/Cerita Rakyat dari Yogyakarta 2]

 

 

 

 

 

 

 

 

denger
“Berjalanlah dengan penuh percaya diri menuju arah mimpimu. Hiduplah hidup yang telah kau impikan.”

―Henry David Thoreau

mizandotcom MizanMag

Facebook Mizanmag

Find Us: