portal

Mengajak Anda memungut hikmah, membentangkan jembatan, dan mengabarkan kasih sayang.

Sebelum Berbisnis, Jawab Dulu 5 Pertanyaan Ini

Fatih Zam   Senin, 24 Juni 2013, 10:00 WIB

 


blog.5gundeingilizce.com

MIZANMAG.COM - Untuk memulai dan menekuni suatu bisnis memiliki banyak kemiripan dengan menjadi orangtua. Tidak hanya harus mempersiapkan diri secara emosional dan finansial. Tapi, Anda pun harus berkomitmen untuk kebutuhan konstan sampai itu cukup matang untuk berjalan natural. Dengan kata lain, bisnis yang hendak Anda bangun akan selalu membutuhkan Anda, sebagaimana butuhnya anak dengan orangtua. Sudah siapkah Anda berbisnis?

 

Berikut adalah lima pertanyaan untuk “mengukur” sejauh apa kesiapan Anda dengan gagasan menjadi pengusaha.

 

Apakah saya benar-benar antusias dengan produk atau jasa bisnis yang hendak saya dirikan?

Mari kita hadapi: tahap permulaan adalah stres. Anda akan menemukan diri untuk bertanya, apa Anda telah membuat keputusan yang tepat, terutama ketika keuntungan yang diperoleh di awal cukup sedikit.

 

Sebagai pemilik bisnis, Anda juga penjual utama untuk perusahaan Anda. Antusiasme Anda untuk produk atau jasa, apakah itu bisnis jahit baju pesanan, konsultasi pajak, properti, atau berjualan kerajinan sekalipun, Anda harus benar-benar memiliki gairah untuk melakukannya. Dengan demikian, diharapkan Anda dapat bersabar atas kendala-kendala yang muncul. Ketiadaan gairah atau antusiasme dapat menjadikan Anda mudah patah semangat, lemah, pesimis, bahkan memudar dalam proses menjalankan bisnis.

 

Apa toleransi saya untuk risiko?

Siapkah Anda berhenti dari pekerjaan Anda atau menandatangani kontrak pada ruang baru? Yang manapun, tidak ada “membangun bisnis” untuk hati yang lemah atas konsekuensi.

 

Tanya saja Ina Garten, sosok yang membeli sebuah toko khusus makanan—yang kemudian disebut The Barefoot Contessa di East Hampton, New York, pada tahun 1978 dan sejak itu berkembang ke buku masak, televisi dan, lini produk lainnya. Bicara mental dan kesulitan berbisnis, Garten memberitahu calon pengusaha bahwa Anda harus berani terjun dari tebing dan menemukan cara untuk terbang di saat Anda “jatuh”. Ide ini terdengar seperti bunuh diri, tapi harus selamat dari upaya bunuh diri tersebut dengan mengupayakan jalan keluar.

 

Bahkan, dengan semangat yang cukup untuk meluncurkan seribu usaha, Anda selalu mungkin menemukan sejumlah keadaan yang mempercepat kegagalan Anda. Ada saja penyebabnya. Tidak ada jaminan keberhasilan, atau bahkan gaji tetap. Jika tidak mau mengambil risiko, kewirausahaan mungkin bukan jalan yang tepat untuk Anda.

 

Apa saya pandai membuat keputusan?

Memiliki bisnis sendiri berarti menanggung konsekuensinya sendiri. Berbeda dengan bekerja pada sebuah perusahaan, Anda cukup bekerja dan digaji. Namun, tidak ada yang melakukan itu untuk Anda begitu Anda menjadi pengusaha. Jika suatu bisnis berjalan buruk, Anda yang membuat keputusan dan Anda pula yang akan menanggung apa pun hasil akhirnya. Untuk itu, pertimbangkan bagaimana Anda dapat menangani keputusan-keputusan awal. Pertanyaan seperti, “Apakah saya bekerja dari rumah atau  menyewa ruang kantor?” Atau, “Apakah saya mempekerjakan karyawan? Apakah saya mengejar high-end klien atau menjual kepada massa? Apakah saya menggabungkannya? Apakah saya akan beriklan? Apakah saya meminjam uang dari teman atau keluarga? Apakah saya menggunakan seluruh tabungan saya?” Seluruh pertanyaan itu sangat mungkin perlu dijawab.

 

Perlu diingat, bahwa proses pengambilan keputusan hanya menjadi lebih rumit seiring waktu, setelah Anda memiliki karyawan atau klien. Pilihan yang Anda buat dapat menyebabkan keberhasilan atau kejatuhan, sehingga Anda harus merasa percaya diri dalam kemampuan tersebut.

 

Apa saya bersedia untuk mengambil banyak tanggung jawab?

Sementara seorang karyawan perusahaan berfokus pada keahlian khusus atau peran dalam perusahaan, pemilik bisnis harus berkontribusi segalanya untuk bisnis, dalam berbagai dimensi dan aspek. Pengusaha pada khususnya harus fleksibel dan memainkan sejumlah peran. Jika Anda bukan tipe yang mampu mengatasi banyak peran, bisa jadi menjadi wirausahawan tidak sesuai dengan Anda.

 

Apa saya bisa menghindari kelelahan?

Bekerja tujuh hari seminggu, kehilangan kontak dengan teman-teman, meninggalkan hobi lama, tidak memiliki waktu untuk keluarga, teman, dan orang-orang di sekitar, dapat menyebabkan kelelahan di tengah-tengah memulai bisnis, dan akhirnya menemui kegagalan.

 

Ada orang yang memilih untuk tidak berbisnis karena sadar dirinya tidak bisa bekerja selama tujuh hari seminggu. Baginya, akhir pekan harus ada. Waktu untuk rileks bersama keluarga dan teman-teman tidak boleh ditinggalkan. Mengerjakan hobi atau membagi waktu dengan kuliah. Orang-orang seperti ini sukar untuk siap berbisnis penuh.

 

Memang, ada orang-orang dengan tingkat manajemen yang luar biasa. Hanya saja, tidak semua orang memiliki kapabilitas ini. Luangkan waktu untuk memikirkan pertanyaan-pertanyaan di atas. Pikirkan dengan tenang, dan putuskanlah apa yang perlu diputuskan. Semua ada risiko dan perlu dipertimbangkan secara mendalam. [wsj.com]

 

 

 

 

 

 

 

 

denger
“Berjalanlah dengan penuh percaya diri menuju arah mimpimu. Hiduplah hidup yang telah kau impikan.”

―Henry David Thoreau

mizandotcom MizanMag

Facebook Mizanmag

Find Us: